Abstract

The purpose of this study is to find out how the rhetoric of the figure of intellectual cultural Emha Ainun Nadjib, the method used in this study is a qualitative method with descriptive studies. The results of this study can be obtained that the rhetoric of Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) in the Love Indulgence Study in Taman Ismail Marzuki Jakarta Pusat is as follows: 1). Emha Ainun Nadjib was able to maintain the trust of the pilgrims with a simple appearance and real deeds (Ethos), Emha was also able to touch the emotional congregation (pathos) by the way Emha seemed to be what they were, and Emha was able to penetrate the ratio of worshipers by being able to log God (loghos ) 2). From the style of language used by Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) in each of the studies presented by Emha using parable metas, with the right diction and emphasis in the right up and down of the voice, the material presented can be well received. 3). Emha's influence on the spiritual condition and the way of thinking of the pilgrims is very significant, this is evident from several interviews conducted by researchers towards the congregation.


Tujuan penelitian ini adalah mengetahui bagaimana retorika sosok budayawan intelektual Emha Ainun Nadjib secara Ethos, Phatos, Loghos, gaya bahasa yang digunakan dan pengaruh Cak Nun terhadap Kondisi spiritual jama’ah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan studi deskriptif. Hasil dari penelitian ini dapat diperoleh bahwa retorika Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) dalam Kajian Kenduri Cinta di Taman Ismail Marzuki Jakarta Pusat sebagai berikut : Pertama, Emha Ainun Nadjib mampu menjaga kepercayaan para jamaah dengan penampilan yang sederhana dan perbuatan yang nyata (Ethos), Emha juga mampu menyentuh emosional jamaah (pathos) dengan cara Emha seolah menjadi seperti apa mereka, dan Emha mampu menembus rasio jamaah dengan mampu menglogikakan Tuhan (loghos). Kedua, Dari gaya bahasa yang digunakan oleh Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) pada setiap kajian yang disampaikan oleh Emha menggunakan majas perumpamaan, dengan diksi yang tepat dan intonasi penekanan naik turun suara yang tepat, materi yang disampaikan dapat diterima dengan baik. Ketiga, Pengaruh Emha terhadap kondisi spiritual dan cara berpikir jamaah maiyah sangat signifikan, ini terbukti dari beberapa wawancara yang dilakukan oleh peneliti terhadap jama’ah.