Abstract

Tulisan ini mencoba mengkaji pembahasan satu hal penting terkait kajian ushul fiqh yaitu qath’i dan zhanni. Qath’i dan zhanni menurut pandangan Ulama ushuliyyun salaf (era klasik) sebagai konsepsi umum yang wajar dipakai dan dianggap final, tetapi di era modern ini konsep ini menjadi perbincangan yang serius. Gugatan dan kegelisahan ulama ushulliyun khalaf (era kontemporer) mencoba membuka peluang untuk terjadinya ijtihad dan interpretasi terhadap ayat-ayat qath’i. Penulisan ini mengambil mentode normatif-analitis, dimana teks-teks ayat al-Quran dicoba dibedah beradasarkan pemilahan ayat-ayat qath’i dan zhanni, dimana didapatkan kesimpulan ayat-ayat qath’i jumlahnya sangat minim sekali dibanding dengan ayat-ayat zhanni. Dan perbedaan pandangan ulama Ushul melihat sebuah eksistensi qath’i apakah berdiri berdiri atau harus ada penguat (qarinah) lain dan semakin berkembangnya dinamika kehidupan sosiokultural pada saat ini dibandingkan kondisi pada saat turunnya nash. Hal ini pula yang menyebabkan sebagian ulama kontemporer menganggap perlu adanya ijtihad dan interpretasi terhadap nash-nash yang qath’i.


This paper tries to examine the discussion of one important thing related to the study of ushul fiqh, namely qath'i and zhanni. Qath'i and zhanni according to the views of the Ulama ushuliyyun salaf (classical era) as general conceptions that are reasonable to use and considered final, but in this modern era this concept has become a serious topic of discussion. The complaints and anxiety of the ushulliyun khalaf (contemporary era) scholars tried to open up opportunities for ijtihad and interpretation of qath'i verses. This writing takes a normative-analytical method, in which the texts of the Qur'anic verses are tried to be dissected based on the division of qath'i and zhanni verses, where it is concluded that the number of qath'i verses is very minimal compared to zhanni verses. And the different views of Ushul scholars see the existence of qath'i whether standing or there must be other reinforcement (qarinah) and the development of the dynamics of socio-cultural life at this time compared to the conditions at the time of the decline of the texts. This also causes some contemporary scholars to consider the need for ijtihad and interpretation of qath'i texts.