Abstract

Penelitian ini mengungkapkan pembingkaian yang dikembangkan oleh Republika, Tribun Jabar, dan Pikiran Rakyat dalam menyikapi konflik yang terjadi antara Front Pembela Islam (FPI) dan Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI). Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode analisis framing, dengan model Robert M. Entman. Menurut model  Entman, pembingkaian berita terdiri dari pendefinisian masalah (Define Problem), memperkirakan penyebab masalah (Diagnose Causes), membuat keputusan moral (Make Moral Judgedment), dan rekomendasi penyelesaian (Treatment Recommendation). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Republika condong kepada FPI dengan menyebut GMBI menjadi sumber terjadinya konflik di depan Mapolda Jabar dan menyebut Kapolda Jabar yang menjadi pembina GMBI diduga sengaja membiarkan massa GMBI untuk menyerang massa FPI di Mapolda Jabar sehingga Anton Charliyan harus diturunkan dari jabatannya. Tribun Jabar  menyangkal Republika  dengan menyebut posisi Anton yang menjabat sebagai Pembina GMBI bukanlah masalah karena tidak masuk struktural. Tribun menyebutkan konflik FPI dan GMBI terjadi karena ketidakadaan mediasi antara kedua belah pihak sehingga komunikasi antar keduanya harus dilakukan. Pikiran Rakyat memfokuskan diri pada penyelesaian kasus perusakan sekretariat GMBI oleh aparat kepolisian dan para pelaku perusakan. Sebagai penyelesaian konflik, Pikiran Rakyat meminta agar masyarakat tidak terprovokasi oleh berita hoax dan pemimpin ormas diharapkan bisa mengendalikan massanya.


 


This research is to find out framing developed by Republika, Tribun Jabar, and Pikran Rakyat in addressing the conflict between Islam Defenders Front (FPI) and the Indonesian Movement of Lower Society (GMBI). This research was conducted by using qualitative approach and framing analysis method, with Robert M. Entman model. According to the Entman model, the framing of news consists of defining the problem (Define Problem), predicting the cause of the problem (Diagnose Causes), making moral decisions (Make Moral Judgedment), and the Treatment Recommendation). Data collection techniques are done by documentation and literature studies. The object of this study is about the events of conflict between FPI and GMBI in the period of January 13, 2017 to January 18, 2017. The results of this study indicate that Republika inclines to FPI by calling GMBI a source of conflict in front of West Java Police Headquarters and called the West Java Police Chief became a GMBI coach allegedly deliberately allowing the mass of GMBI to attack FPI mass in West Java Mapolda so that Anton Charliyan should be demoted from his position. Tribun Jabar denies Republika's statement by mentioning the position of Anton who served as a coach of GMBI is not a problem because it does not enter into the structural. Tribun mention FPI and GMBI conflict occurred because of the absence of mediation between the two parties so that communication must be done to West Java back conducive. In contrast to Republika and Tribun Jabar, Pikiran Rakyat did not mention the mass demo of FPI and West Java Police Chief. Pikiran Rakyat focuses on solving the case of destruction of the Secretariat of GMBI by police officers and perpetrators of the destruction. As a conflict resolution, Pikiran Rakyat requested that the public not be provoked by the news hoax and leaders of mass organizations are expected to control the mass.