Abstract

Pada era modern ini banyak terjadi kasus kejahatan seksual pada anak di sekeliling kita dalam hal ini adalah kasus kejahatan seksual dalam bentuk pemerkosaan. Padahal seorang anak seharusnya mendapat perlindungan dari orang tua, keluarga dan masyarakat. Anak yang menjadi korban pemerkosaan akan mengalami permasalahan baik secara fisik maupun psikis. Secara psikis anak akan terguncang jiwanya bahkan trauma berkepanjangan. Untuk itu dibutuhkan layanan bantuan salah satunya adalah pemberian konseling individual yang bertujuan untuk membantu mengembangkan pribadi positif dalam diri klien dan membantu memulihkan permasalahan psikis yang dialaminya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana pelaksanaan pemberian layanan konseling individual bagi anak korban pemerkosaan di Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Tanggamus Lampung. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian bahwasannya pelaksanaan konseling individual mencakup 4 tahap yakni identifikasi, doagnosis, prognosis, dan terapi. Sebelumpemberian konseling anak korban pemerkosaan yang awalnya merasa cemas, memiliki rasa kurang percaya diri, menutup diri dari pergaulan dan juga reaksi somatik seperti jantung berdebar dan keringat yang berlebihan, sebagian besar korban pemerkosaan akan condong untuk berdiam diri. Namun setelah mendapat layanan konseling individual anak menjadi lebih tenang, mau bersosialisasi dengan orang lain, komunikatif ketika diajak berbicara. Dan bagi anak yang sudah terganggu kejiwaannya akan dirujuk ke Rumah Sakit agar diberikan terapi kejiwaan oleh Psikolog.