Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana prosesi tradisi hajat laut, adakah unsur dakwah dan konsep dakwah yang digunakan dalam tradisi hajat laut ini. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori tindakan sosial max weber. Teori ini menjelaskan tentang adanya tindakan sosial yang merupakan tradisi yang selalu dilaksanakan setiap tahunnya, yakni adanya makna islam yang terkandung didalamnya.Metode dalam penelitian tersebut adalah deskriptif menggunakan analisis pendekatan kualitatif. Fokus penelitian ini mengenai kandungan dimensi-dimensi dakwah atau unsur-unsur dakwah dalam tradisi hajat laut. Sedangkan untuk mengumpulkan data penelitian menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi.Ditemukan banyak kandungan dakwah islam didalam tradisi hajat laut yang diselenggarakan oleh desa pangandaran, kecamatan pangandaran. Media dakwah dalam tradisi hajat laut ini yakni pertunjukan wayang kulit, puasa hajat, tahlilan, dongdang, dan pengumpulan makanan di balai desa. Hal ini memberikan nilai positif yang di terapkan oleh masyarakat desa pangandaran seperti nilai dakwah, syukur, dakwah, aqidah dan akhlak.


The purpose of this research is to find out how the marine hajat tradition procession, are there elements of da'wah and the concept of da'wah used in this marine tradition. The theory used in this research is Max Weber's theory of social action. This theory explains the existence of soci  cval action which is a tradition that is always carried out every year, namely the meaning of Islam contained therein. The method in this research is descriptive using a qualitative analysis approach. The focus of this research is about the content of the dimensions of da'wah or elements of da'wah in the marine hajat tradition. Meanwhile, to collect research data using observation, interviews, and documentation. It was found that there are many contents of Islamic da'wah in the marine hajat tradition held by Pangandaran Village, Pangandaran District. The media of da'wah in this marine hajat tradition are shadow puppet shows, fasting hajat, tahlilan, dongdang, and food gathering at the village hall. This provides positive values ​​that are applied by the Pangandaran village community such as the values ​​of preaching, gratitude, preaching, aqidah and morals.